oleh : Anand Krishna, Harian Republika , Kolom opini, tanggal 3 Agustus 2000
Ketika ada yang menulis Tasawuf Spiritualisme dalam Islam saya ketawa geli. Setidaknya ada dua alasan yang memancing tawa saya. Pertama, bagi saya tasawuf dan spiritualitas itu sinomim. Beda bahasa, itusaja. Kedua, spiritualitas tidak bisa dijadikan ‘isme’. Selama masih ada dui (bahasa Sindhi) atau dualitas menurut Shah Abdul Latief dari Sindh (sekarang Pakistan) seseorang masih jauh dari Tauhid, dari Kesatuan. Dan kalau masih jauh dari Tauhid, dari Kesatuan, lalu ucapamiya ‘La ilaha ila Allah hanya sekadar ucapan. Dia masih belum bisa melihat Kebenaran di balik kalimat itu. Kebenaran Yang Satu Ada-Nya! Tidak ada sesuatu di luar Allah. Orang yang masih menganggap Tuhan orang Kristen beda dari Tuhan orang Islam – Tuhan orang Hindu beda dari Tuhan orang Buddhis, Tuhan Shabi-in beda dari Tuhan Yahudi-harus membaca ulang Alqur’an. Jika masih melihat perbedaan semacam itu, maka kita belum ‘khatam’ Alqur’an. Belum, pelajaran kita masih belum selesai.
Dalam hal ini Alqur’an jelas sekali: “Sesungguhnya orang-orang yang berman, orang-orang Yahudi, Shabi-in dan orang-orang Nashara, barang siapa yang beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka hersedih hati” (Surat 5:69).
Jalan bisa berbeda. Jelas berbeda. Orang Iran ke Mekah tidak harus lewat Indonesia. Orang Indonesia ke Mekah tidak harus lewat Cina. Orang India ke Mekah tidak harus lewat Amerika. Orang Mesir ke Mekah tidak hares lewat Eropa. Orang Eropa ke Mekah tidak harus lewat Australia. Jalan berbeda, jelas-jelas berbeda. Tetapi, apabila kita menganggap tujuan pun berbeda, maka sesungguhnya kita musyrik. Justru kita yang menduakan Allah, menduakan Tuhan.
Pemahamanmu (tentang agama) bagi kamu. Pemahamanku (tentang agama) bagi aku. Ya, itu betul. Tetapi tidak pernah ada satu pun Nabi yang mengatakan, “Tuhanku bagi aku, Tuhanmu bagi kamu.” Tidak bisa. Karena tujuan kita semua satu, sama.
Ketika mayat orang Yahudi lewat, Nabi tetap memberi hormat. Turunan Nabi di Timur Tengah sana juga melakukan hal yang sama. Dalam setiap ulang tahun Nabi Isa di Bethlehem, Yasser Arafat hadir, Alqur’an penuh dengan ayat-ayat yang menjunjung tinggi perbedaan. Melihat kebenaran yang satu dan sama di balik wujud-wujud yang berbeda. Bahkan perbedaan dalam hal beribadah pun diakui. Sehingga bukan hanya Nasrani dan Yahudi, tetapi cara umat Shabiin berdoa, cara alam semesta ber-’tasbih’ semuanya diakui: “Telah bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan di bumi dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Surat 57:1).
Dalam bahasa apa seisi langit dan bumi sedang bertasbih kepada Allah? Dengan cara apa mereka sedang bertasbih? Tahukah kita? Tidakkan? Yang tahu hanyalah Dia. Lalu apa gunanya menonjolkan supremasi bahasa kita dan cara kita? Maha Tahu Allah, Maha Mengetahui Allah! Pengetahuan kita masih amat sangat terbatas. Sisi Kebenaran yang terlihat oleh kita pun hanya satu. Lalu berdasarkan modal secuil itu, jika kita menganggap diri sudah hebat dan menganggap remeh orang lain; kita sungguh bodoh, arogan, angkuh, sombong!
Seringkali, kita juga tidak sadar dan terprovokasi okh sekelompok kecil orang yang ‘hanya’ melihat perbedaan. Demikian, sesungguhnya kita menurunkan ‘derajat’ Kalam Ilahi. Kalam yang bisa mempersatukan, kita jadikan pedang untuk memisahkan.
Masih saja ada yang menulis, memberi ceramah, membakar emosi masyarakat dengan macam- macam tuduhan dan tun= dingan. Mereka lupa bahwa Kecendekiaan mereka, ilmu pengetahuan mereka juga merupakan berkah dari Allah. Menyalahgunakannya untuk memecah belah umat manusia, sama seperti menghina Alqur’an itu sendiri.
Apa yang hanis kita lakukan? Mengkonfrontir mereka? Tidak. Karena, ketidaktahuan tidak bisa diatasi dengan ketidaktahuan. Seperti halnya lantai Yang kotor tidak bisa dibersihkan dengan air yang kotor. Untuk menghilangkan noda dari baju, dibutuhkan air yang bcasih. Ditambah pemutih, deterjen. Yang jelas, air kotor tidak bisa dijadikan sarana untuk membersihkan kekotoran.
Kekerasan tidak hanya ditandai oleh pedang dan parang di tangan. Kalam atau pena di tangan bisa lebih berbahaya dari pedang. Pena kita haruslah menyebarkai kesejukan, bukan kegerahan. Kita boleh beda pendapat, boleh berbeda haluan. Perhatikan alam di sekitar kita. Tidak ada dua helai daun yang sama. Satu pohon, satu jenis, tetapi setiap helai daun berbeda. Tidak ada pengulangan di dalam alam ini. Semuanya unik. Jelas, setiap individu juga unik. Kita tidak akan berhasil ‘menyeragamkan’ umat manusia.
Dalam satu kelompok agama saja bisa berkembang sekian banyak paham. Untuk membina hubungan harmonis antar kelompok saja, kita sudah harus berhati cukup besar untuk menerima perbedaan. Apalagi dalam hal hubungan lintas agama.
Keinginan kita untuk menyeragamkan umat manusia, berasal dari ‘kehausan kita akan kekuasaan’. Memerintah, menguasai, dan memperbudak ’satu macam’ manusia, jauh lebih gampang daripada memerintah, menguasai, dan memperbudak ’sekian macam’ manusia.
Dua ayat Alqur’an yang dikutip di atas sudah cukup untuk membuktikan bahwa Muhammad yang kita muliakan bisa menerima perbedaan. Yesus pun bisa, karena dia melihat Kerajaan Allah di dalam diri manusia. Veda menerima semua Nama yang diberikan kepada-Nya, karena di balik Nama-Nama yang berbeda itu ada Kebenaran. Dan Kebenaran itu Satu Ada-Nya. Dalam ajaran buddhis, bebatuan dan tumbuhan pun dianggap sebagai bagian penting dalam mata rantai evolusi yang semuanya sedang menuju ke-’Buddha’-an.
Istilah Islam berasal dari suku kata yang bisa diartikan ‘Damai’. Dan kata’damai’ itu sendiri seeara implisit menerima adanya keadaan yang bisa disehut ‘tidak damai’. Sekarang tinggal pilih, maunya apa? Pilihan Islam sudah jelas sekali damai, kedamaian, perdamaian.
Dan untuk mewujudkan kedamaian dan perdamaian, Islam memiliki landasan yang kuat sekali. Kembali pada kalimat emas, La ilaha ila Allah. Tidak ada sesuatu di luar Allah. Dialah SatuSatu- Nya Kebenaran. Tidak ada kebenaran di luar Dia. Lalu, untuk apa bertikai? Untuk apa bertengkar? Untuk apa berprasangka buruk terhadap orang lain?
Menyelami Islam, manusia akan menjadi lembut. Jika dia tidak lembut, jelas dia belum cukup menyelami Islam. Kekerasan yang terjadi atas nama Islam dilakukan oleh orang-orang yang belum cukup menyelami Islam. Mereka tidak tahu, ‘Islam itu apa.’ Karena kebetulan lahir dalam keluarga Muslim, tidak serta-merta seseorang menjadi Mukmin. Untuk menjadi Mukmin, kita harus ‘berserah diri pada Hendak Ilahi.’ Yang disebut kafir adalah mereka yang tidak berserah diri pada Hendak Ilahi. Yang disebut beriman adalah mereka yang menerima Kehendak-Nya.
Inilah inti agama, inti keagamaan. Dan bagi saya inilah spiritualitas, inilah tasawuf. Inilah Islam! ?
ANAND ASHRAM: Jl. Sunter Mas Barat II-E, Block H-10/1, Jakarta 14350 – Indonesia
Phone: 021-6508648, 0818-701658, 0818-163391 | Fax: 021-6503459 | E-Mail: ashram@anandkrishna.org

