Saya Tak Akan Lari, Saya Bukan Salman Rushdie

11 11 2008

Anand Krishna Sosok dan Kiprahnya

JawaPos, Minggu Pahing 17 Desember 2000

Pemikirannya sering dinilai kontroversial. Padahal, Anand Krishna mengaku hanya mengajak orang bersatu tanpa membeda-bedakan apa agamanya. Di mana sebenarnya titik kontroversial Anand? Kenapa dia begitu menggandrungi Jalaluddin Rumi? Berikut ini hasil wawancara wartawan Jawa Pos Agus Muttaqin dan Jalaluddin Hambali dengan Anand di pedepokannya di kawasan Sunter, Jakarta.

Mengapa Anda tertarik terhadap fenomena spiritualitas?

Karena itu yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Sebab, kalau tidak, Indonesia akan mengalami disintegrasi total. Untuk itu, saya cuma bisa mengimbau teman-teman agar berpikiran jernih dalam melihat agama sebagai sesuatu yang bisa menyatukan bangsa, bukan untuk memecah belah. Jika kita masih berpikir pada kelompok-kelompok, saya sedih karena bangsa ini akan semakin terpecah belah.

Agama sebagai perekat perbedaan manusia, maksudnya?

Justru saya melihat satu-satunya yang bisa mendekatkan kita adalah agama. Syariat tiap agama itu berbeda dan tak bisa disatukan. Saya tak pernah mengatakan syariat tak dibutuhkan. Tidak. Tak pernah. Tapi saya sadari, setiap agama memiliki syariat berbeda yang tak bisa disatukan. Untuk itu, mari kita berusaha mencari sesuatu guna mempersatukannya. Sesuatu itu saya anggap spiritualitas, kasih, dan silaturahmi. Dengan menambah silaturahmi itu, tolong jangan dipikirkan apa agama tetangga kita. Dan mari kita mengapresiasi mereka sebagai tetangga tanpa memedulikan agama mereka apa. Kalau tidak, kapan kita bisa hidup damai secara berdampingan.

Masyarakat kita masih sulit mencerna pemikiran Anda?

Kalau besok saya mati, pemikiran saya akan diterima seluruh masyarakat Indonesia. Saya cuma harus mati. Tapi, saya belum mau mati. Saya masih melihat. Yang menolak saat ini, 20 tahun kemudian akan menerimanya. Saya hanya menanam benih. Dan saya yakin ini akan berbuah. Kecuali kalau kita memutuskan untuk tidak berbangsa lagi. Yang satu menjadi suku apa dan yang lain suku apa. Tapi, kalau kita membuat suatu bangsa, tak ada jalan lain. Butuh pemikiran jernih. Apa pun agamamu. Yang jelas, ada sesuatu yang bisa membuat kita bisa duduk bersama dan hidup bersama.

Sejak kapan Anda tertarik dengan dunia spiritualitas?

Keluarga saya mengalami trauma pertikaian antaragama yang luar biasa di India. Tapi, dalam atap keluarga saya, diajarkan hidup damai. Untuk diketahui, di keluarga ayah saya, ada saudara yang Yahudi dan ada yang Islam. Tapi berabad-abad dapat hidup bersama. Dari kecil, saya diberi pelajaran agar tak mempermasalahkan agama. Perbedaan memang ada. Namun perbedaan itu bukan alasan untuk saling membunuh atau saling menghujat.

Mengapa dalam realitas antarpemeluk agama cenderung berkonflik?

Jangankan agama. Anak-anak SMU yang bergerombol saja menimbulkan ketakutan orang di sekitarnya. Jangan-jangan tawuran. Saat ini seluruh masyarakat dalam suasana mencekam dan ketakutan yang luar biasa sehingga melihat tali saja seperti ular. Rasa takut inilah yang harus kita perangi, harus dilawan. Kalau setiap orang merasa takut, bangsa kita lebih parah daripada bangsa kuli. Kita harus berani mengungkap kebenaran. Di saat yang sama, kita juga harus jujur terhadap diri sendiri bahwa saya mengapresiasi perbedaan atau menginginkan keseragaman. Jika kita menginginkan keseragaman, moto reformasi kita lupakan saja. Kita harus jujur bahwa jika mau berdemokrasi harus bersedia menerima perbedaan. Begitu kita menerima perbedaan, kekerasan akan lenyap begitu saja. Kekerasan itu kegelapan yang ibaratnya jika matahari terbit akan hilang.

Apa yang membuat Anda menjadi seorang spiritualis?

Orang tua saya menanam benih kesadaran agar tak mempermasalahkan agama, tanpa saya harus mengkritik. Bahkan, saya harus mengapresiasi. Dalam rangka mengapresiasi itu, orang tua saya membukakan semua pintu kepada saya sehingga dari kecil saya ingat teman ayah saya yang senang wayang tapi beragam Islam. Macam-macam. Setelah itu, saya sekolah di India. Di sana saya ditempatkan di Lucknow, Negara Bagian Uttar Pradesh, India. Di situ saya kenal ajaran Islam secara mendalam melalui pintu tasawuf sehingga saya mulai melakukan apresiasi ajaran dan kitab suci agama lain. Bahkan, kitab suci yang saya pelajari dari halaman ke halaman adalah Alquran dalam bahasa Hindi, baru bahasa Arab di bawah bimbingan Shah Abdul Latif, seorang sufi mistik yang amat saya kagumi. Saya juga murid termuda dari Syekh Baba, sufi mistik yang sehari-hari penjual es balok. Dari mereka, saya memperdalam tasawuf Jalaluddin Rumi. Setelah itu, saya juga mempelajarai ajaran Kristen dan Buddha. Kalau kita melihat inti ajaran, kita tak akan bermusuhan. Tapi pemahaman kita akan dangkal sekali jika hanya melihat yang luar.

Pada tahun 1991 sampai 1994, saya mempunyai kelas khusus pelatihan meditasi di Kemang, Cilandak. Bahkan, buku pertama yang dicetak merupakan saran seorang yang ikut pelatihan. Saya putuskan untuk berhenti memberikan kursus di kelas khusus itu. Sebab, dengan memberikan kelas khusus, saya merasa belum berbuat terhadap masyarakat banyak yang membesarkan saya. Untuk itu, saya putuskan untuk membuka padepokan meditasi di kediaman saya, di Sunter ini.

Reaksi masyarakat saat pertama menerima pandangan Anda?

Buku pertama saya yang berjudul Kehidupan sempat disensor 6 bulan. Bahkan, buku kedua saya harus menunggu reaksi yang cukup lama dari pasar. Sehingga pihak penerbit yakin bahwa buku berikutnya cukup marketable dan tak bermasalah. Sekarang saya diundang ke berbagai kampus IAIN, anak-anak Muhammadiyah, atau NU. Dan anak-anak muda yang saya temui itu cukup agresif karena cukup bisa menerima berbagai perbedaan yang ada.

Bagaimana dengan tudingan bahwa Anda membuat penafsiran terhadap sejumlah ajaran agama?

Bolak-balik saya katakan, saya bukan ahli bahasa, saya bukan ilmuwan, saya bukan sastrawan, saya bukan ahli penafsir, saya juga bukan filosof. Saya menggunakan terjemahan yang telah dibakukan Departemen Agama. Saya tidak menerjemahkan secara baru. Saya cuma memberikan pandangan saya dalam rangka apresiasi. Jadi, tidak mencela, mengkritik, atau menghujat. Sama sekali tak ada.

Yang saya ingin katakan adalah saya sedang menjalani agama. Dan saya melihat bahwa saya mendapat pengalaman yang luar biasa. Pengalaman yang saya pahami bisa mempersatukan masyarakat. Saya bukan ilmuwan yang harus punya referensi banyak. Saya tak menganggap sebagai ahli apa-apa. Saya tak pernah. Hanya pengalaman apresiasi.

Saya juga bukan orang yang luar biasa. Saya membagi waktu. Saya punya sekian waktu untuk belajar dan menulis. Soalnya, semua orang sebenarnya juga bisa melakukan apa yang saya lakukan asal dia betul-betul teguh kepada prinsip. Jangan tergoda oleh berbagai tawaran.

Banyak yang mengkritik tulisan, seperti buku 99 Nama Allah bagi Orang Modern. Buku itu dianggap tidak dilandasi dasar keilmuan?

Jika dikatakan tulisan saya ngawur, penerbit seperti Gramedia tak akan menerbitkan buku saya. Kedua, buku-buku saya sebelum dicetak diberikan kepada orang-orang di IAIN Syarif Hidayatullah untuk dipelajari dan diseminarkan. Pasalnya, saya anggap IAIN itu cukup dikenal masyarakat. Termasuk kepada Prof Nurcholish Madjid. Saya harus mencari siapa lagi untuk meminta pertimbangan? Tentu saya harus juga bersilaturahmi kepada yang lain. Bahkan, dua hari setelah polemik itu, saya mendapat sekitar 200 tanggapan melalui e-mail, surat, dan faks. Mayoritas Islam yang menyesalkan terjadinya polemik itu. Bahkan, saya bersedia minta maaf. Saya nggak akan lari ke mana-mana. Saya bukan Salman Rushdie. Saya bahkan tak pernah melecehkan agama.

Belakangan Anda menulis buku yang bersentuhan dengan ajaran tasawuf dari Sumatra dan Jawa. Mengapa?

Saya baru menggandakan buku serat Angling Dharma. Saya tengah mempelajarinya karena di sana ada ajaran yang luar biasa. Serat kuno seperti Centhini perlu digali lagi. Buku berjudul Atisha saya ceritakan dari pengembaraan saya di Himalaya. Dalam buku itu, pada tahun 1000 sekian, banyak orang Tibet yang datang ke Swarnabumi, Swarnadwipa, yang sekarang Indonesia ini untuk belajar. Saya terkesan. Ternyata di Tibet masih dilestarikan sejarah bahwa di Indonesia dulu ada tokoh Dharmakirti dan dia guru besar yang tak banyak diketahui pemikirannya. Tapi, salah seorang muridnya yang ada di Tibet -bernama Atisha- menulis ajaran gurunya itu.

Tulisan lontar kuno tersebut masih ada di tangan tokoh Tibet, Dalai Lama. Sebenarnya itu bukan ajaran atau sebuah teori yang harus dilakoni, tapi lebih bersikap teknik meditasi. Dan itu sangat relevan untuk mengubah energi kekerasan menjadi energi cinta. Kita pernah melakukan di Bunderan Hotel Indonesia saat pemilu lalu. Kebetulan pemilu itu berjalan mulus.

Bagaimana kisah ketika Anda tertarik ajaran Mangkunegoro IV?

Saya lahir di Solo. Tahun 1965, orang tua saya aktivis kelompok persahabatan India-Indonesia. Pada 30 September 1965 saya diungsikan ke Keraton Solo. Ini meninggalkan bekas bahwa ada orang keraton yang begitu concern terhadap orang lain. Saat itulah, tanpa sengaja saya sempat membuka-buka buku tentang ajaran Mangkunegoro.

Di antara pemikiran di dunia yang paling berkesan di hati Anda?

Yang paling berkesan bagi saya adalah Jalaluddin Rumi. Dia bagi saya sangat dinamis. Dia meninggalkan rumah ketika mempunyai istri dan anak. Dan dia bukan filosof yang kering. Dia orang yang lembab sekali karena bisa bicara puisi dan bisa menari. Dia bisa mengajak orang-orang untuk menikmati hidup. Ini menjadi tolak ukur dalam alam bawah sadar saya untuk mengapresiasi tokoh yang tidak sepandangan dengan Rumi. Mangkunegoro salah satunya. Krishna dalam tokoh pewayangan. Selain itu, saya juga sangat apresiatif terhadap Yesus yang menulis doa sabda pencerahan.

Dunia tasawuf dan politik bisa dibilang bertolak belakang. Meski demikian, banyak yang mengatakan ada hubungannya. Menurut Anda?

Tasawuf harus mempengaruhi politik. Bahkan harus mempengaruhi setiap gerakan kehidupan. Jadi, agama harus mempengaruhi pemandangan hidup kita. Biarkan doktrin dan syariah menjadi dinamisme hidup. Kuncinya, saling mengapresiasi dan saling mengakui dalam bentuk silaturahmi. Ini kata kuncinya.


Actions

Information

Leave a comment