Enyong pribadi sebagai masyarakat Jawa kepingin nguri-uri kabudayaane dhewek sing akeh banged cacahe. lan ternyata akeh ilmu sing bisa dipelajari nengkono..kie enyong olih filsafat jawa sing bentuke semboyan utawa pedoman. nek diresapi ingkang seksama, luar biasaa artine kaidah neng njerone…prinsip urip neng ndun’nya ben olih sukses kebegjan.
ana 14 cacahe prinsip jawa, monggo si priksani : Read the rest of this entry »
Prinsip Jawa
13 08 2009Comments : Leave a Comment »
Categories : Simbiosis mutualisme
After Hours Activities?
16 07 2009Usai jam kerja yang panjang dan melelahkan, wajar jika Anda ataupun saya ingin segera pulang dan beristirahat di rumah. Namun, kadang ada aktifitas yang masih harus kita kerjakan di luar jam kerja.
Acara ketemu dengan klien (side job), ramah tamah dengan boss atau office/fren gathering, merupakan sebagian kegiatan yang kerap dilakukan usai jam kerja. bahkan masih ada kegiatan rutin yang diberlakukan oleh perusahaan di luar jam kerja, seperti tim olahraga dan organisasi sosial.
Masalahnya, banyak diatara kita (karyawan) yang merasa tak perlu mengikuti kegiatan itu. Kelelahan setelah melakukan rutinitas kerja menyebabkan mereka memilih segera pulang ke rumah dan istirahat!mmhhh…
Bagaimana sebaiknya? Apa yang harus di lakukan? Semua keputusan tentu ada di tangan kita. Tapi sebelum kita mengambil langkah mundur, ada baiknya jika kita mengetahui keuntungan jika mengikuti kegiatan after office hour berikut ini :
- Lebih dikenal. Berkat pertemuan yang kita lakukan dengan karyawan dari departemen lain, kita jadi lebih dikenal. Kita bukan lagi karyawan yang kuper yang hanya duduk di belakang meja. Mereka mengenal Kita dengan baik, baik secara profesional maupun personal. Begitupun sebaliknya.
- Memperlancar pekerjaan. Jika selama ini Anda hanya berhubungan dengan karyawan divisi lain lewat email, faks atau memo, berkat kegiatan ini, Anda bisa bertemu langsung dengan mereka. Kontak personal ini akan memudahkan pekerjaan. Hubungan yang tercipta lewat kegiatan itu menyebabkan Anda tidak kesulitan menembus birokrasi.
- Memperluas wawasan dan pengalaman. Banyaknya aktivitas yang menuntut Anda melakukan kontak dengan pihak dari departemen/perusahaan lain membuka kesempatan Anda untuk memperluas wawasan tentang pekerjaan, perusahaan dan kesempatan pekerjaan baru.
- Membantu menyalurkan kemampuan. Beberapa aktivitas tertentu memungkinkan Anda menunjukkan bakat ataupun kemampuan yang Anda miliki yang mungkin saja tidak terlihat ketika Anda bekerja. Misalnya ketrampilan organisasi atau pun keterampilan sosial lainnya.
- Membuka kesempatan belajar. Setiap kegiatan baru mengandung pelajaran berharga. Baik itu pelajaran yang sifatnya formal maupun informal. Kontak dengan sesama karyawan atau klien bisa Anda jadikan ajang tukar pengalaman dan ketrampilan.
- Menambah kesan positif. Kehadiran Anda dalam kegiatan usai jam kantor akan menimbulkan kesan positif terhadap diri Anda. Paling tidak, partisipasi Anda menunjukkan loyalitas dan kepedulian Anda terhadap perusahaan. Anda pun dapat menjadi pribadi yang lebih luwes dan gaul.
- Mengatasi kebosanan. Mengikuti aktivitas usai jam kantor akan mengatasi kejenuhan akibat rutinitas selama jam kerja. Bisa jadi, jika Anda memilih langsung pulang ke rumah lalu tidur, Anda justru akan terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja.
So.., aktivitas setelah jam kerja tidak selalu menyebalkan bukan? Tapi tentu untuk mengikutinya atau tidak, Anda bisa mempertimbangkan kebutuhan Anda sendiri. Jika Anda merasa perlu, why not?jawabnya : untuk saya sendiri..perlu coz lagi KEJAR SETORAAANN (kemungkinan selalu ada, di balik semua hal yang tidak mungkin)^___^
Comments : Leave a Comment »
Categories : Simbiosis mutualisme
Arkeologi Jiwa
26 10 2008“Mengenal teori bawah sadar itu penting untuk dapat memahami apakah manusia itu”.
Oleh : Hidayatmn
Psikoanalis adalah penggambaran pikiran manusia secara umum serta terapi untuk penyakit saraf dan mental. Jika suatu saat ada peristiwa atau kejadian yang mengakibatkan ketegangan secata terus-menerus terjadi antara manusia dan lingkungannya. Terutama, ketegangan, konflik antara dorongan-dorongan dan kebutuhan-kebutuhannya dan tuntutan-tuntutan masyarakat. Memberikan ungkapan semacam pengertian ‘dorongan hati manusia’ kiranya tidaklah berlebihan, hal ini menjadi suatu eksponen natural yang sangat menonjol nantinya. Tindakan-tindakan kita tidak selalu dituntun oleh akal. Manusia bukan benar-benar makhluk rasional sebagaimana anggapan para rasionalis. Impuls-impuls irasional sering menentukan apa yang kita pikirkan, apa yang kita impikan, dan apa yang kita lakukan. Impuls yang seperti itu dapat menjadi ungkapan dorongan hati atau kebutuhan yang mendasar. Dorongan seksual manusia, misalnya, sama mendasarnya dengan insting bayi untuk menyusu.
Hal ini sebenarnya bukanlah suatu hal baru. Bahwa pembuktian kebutuhan-kebutuhan dasar ini dapat disamarkan atau dihaluskan, dan dengan cara tersebut kita menyetir tindakan-tindakan kita tanpa kita menyadarinya. Bayi juga mempunyai semacam keadaan seksualitas tersendiri. Di masyarakat pada umumnya terdapat penunjukkan reaksi menyangkut ‘seksualitas anak’ ketika segala sesuatu yang ada hubungannya dengan seksualialitas dianggap tabu. Pernyataan ini bukanlah disadari tanpa adanya landasan. Perlu diketahui betapa banyak bentuk-bentuk penyakit psikologis yang dapat diketahui atau dilacak kembali pada konflik yang terjadi di masa kanak-kanak. Yang secara lambat laun pengembangan jenis terapi ini dapat kita namakan dengan nama ‘arkeologi jiwa’.
Seorang arkeolog mencari sisa-sisa masa lalu yang jauh dengan menggali berlapis-lapis sejarah kebudayaan. Dia mungkin bisa saja menemukan sebuah pisau dari abad kedelapan belas. Dan lebih jauh lagi di dalam tanah dia mungkin dapat menemukan sebuah sisir dari abad dari abad keempat belas dan lain-lain.
Begitu pula, dengan cara yang serupa, seorang psikoanalis, dengan bantuan pasien (orang lain), dapat menggali ke dalam pikiran pasien tersebut dan memunculkan pengalaman-pengalaman yang telah mengakibatkan kelainan psikologis sang pasien, sebab kita menyimpan kenangan akan seluruh pengalaman jauh di dalam diri kita.
Comments : 1 Comment »
Tags: Sigmund freud
Categories : Simbiosis mutualisme

